Fitness untuk anak dan remaja itu yang bagus, benar, dan aman itu yang seperti apa sih? Jawabannya adalah strength training. Caranya mirip weight training atau resistance training, tapi yang di incar bukanlah hipertropi (pembesaran otot ala orang dewasa), tapi yang di incar adalah kekuatan otot. Penasaran? Teruskan membaca tulisan ini.
Apakah strength training aman untuk anak-anak? Jawabannya bervariasi, tergantung seberapa pintarnya orang yang anda tanyakan hal tersebut. Jujur saja, saat ini dalam dunia fitness, jawaban atas pertanyaan itu masih terpecah jadi 2 kubu, masih simpang siur, dan menjadi bahan perdebatan selama beberapa dekade terakhir ini. Akibatnya banyak orang tua kebingungan menyikapinya. Ada yang bilang “tidak bagus”, ada yang bilang “bagus”. Jika anda para orang tua juga bingung soal topik ini, tenang saja, anda tak sendirian.
Semua ini terjadi karena minimnya pemahaman publik akan latihan beban itu sendiri. Intinya adalah, program latihan beban pada anak tidak sama dengan orang dewasa. Para orang tua jadi takut, karena menyangka cara latihannya sama dengan orang dewasa. Mereka takut angkat beban bisa menghambat pertumbuhan anak (daerah cartilage, cikal bakal tulang). Tulang anak kecil dianggap tak cukup kuat menahan stress fisik. Adanya beberapa kasus kerusakan ‘pelat pertumbuhan’ (struktur epiphyseal) pada anak, itu lebih disebabkan kurangnya pengawasan pelatih, pemakaian beban berlebih, dan teknik latihan tak benar.
Menyalahkan kerusakan epiphyseal pada anak akibat latihan beban adalah anekdot, tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Asal tahu saja, jumlah kasus kerusakan seperti itu (pada anak), jumlahnya lebih rendah dibandingkan pada remaja karena epiphyseal plate mereka lebih kuat, lebih mampu menahan kekuatan dari luar.
Apakah dampak negatif strength training for kids itu lebih parah ketimbang jika dilakukan mereka yang lebih dewasa? Belum ada bukti yang mengarah pada hal itu. Dahulu memang ada beberapa penelitian yang berusaha menjawab pertanyaan itu. Sayangnya dilakukan secara tidak komprehensif. Tentu saja hasil laporan mereka menyeramkan, kian memperparah mitos salah kaprah soal fitness for kids.
Contohnya saja penelitian 1978 oleh Vrijens yang menunjukkan, selama 8 minggu menjalani resistance training, ternyata para anak-anak tak mampu meningkatkan kekuatan ototnya. Tapi jika dilakukan para remaja, justru sebaliknya, mereka mengalami peningkatan kekuatan otot. 1 dekade kemudian, penelitian sejenis dilakukan oleh Docherty, yang menunjukkan jika anak umur 12 tahun tidak mendapat keuntungan dari program strength training yang diikutinya.
Kelemahan kedua penelitian tersebut adalah – para ilmuwan hanya memakai daya resistance yang rendah, hanya 1-2 set latihan per sesi saja. Volume intensitas dan durasi latihannya terlalu singkat. Terlalu sedikit tentu saja, sehingga hasilnya tak bisa dipertanggungjawabkan. Penelitian mereka kebanyakan memakai metodologi yang buruk.
Tapi karena hasil penelitian tersebut sudah terlanjur diumumkan ke publik, maka tumbuhlah mitos salah kaprah. AAP menyuarakan pernyataan sentimen di tahun 1983, yaitu “Anak lelaki yang mendekati masa puber (yang mulai tumbuh bulu kemaluannya, baik tahap 1 atau 2) sama sekali tidak mengalami peningkatan kekuatan/massa otot selama ikut program latihan beban. Penyebabnya mereka tak punya cukup banyak androgen dalam tubuh mereka. Karena itu, resistance training bagi anak/remaja dianggap tidak perlu/tidak berguna.”
Dalam penelitian mereka, para ilmuwan jaman dulu lupa memasukkan parameter penting seperti “pertumbuhan sang anak”. Pertumbuhan anak menjadi orang dewasa, biasanya diiringi dengan naiknya kekuatan fisik mereka, dengan atau tanpa latihan. Jadi kalau anda mau merancang program strength training for kids, maka frekwensi, durasi, dan intensitas latihannya juga musti disesuaikan dengan pertumbuhan sang anak itu sendiri. Dan parameter inilah yang diabaikan penelitian jaman dulu.
Kesalahan lain para ilmuwan terdahulu adalah memakai ukuran otot sebagai patokan efektif tidaknya strength training for kids. Mustinya yang benar adalah memakai faktor neural sebagai tolak ukur prestasi sang anak, bukan ukuran otot. Kenapa? Normalnya otot dikendalikan dengan cara mengaktifkan unit unit motor. Tiap unit motor tersebut mengendalikan sejumlah serat otot tubuh. Aktifitas fisik yang sepele seperti seperti kedip mata, menulis, dll - hanya mengaktifkan sejumlah kecil unit motor saja. Tapi aktifitas berat seperti squat, bench press – akan mengaktifkan sekian banyak unit motor. Kita bisa melatih sistim syaraf sang anak dengan melibatkannya dalam strength training, sehingga mereka bisa mengaktifkan sebanyak mungkin unit motor yang ada pada tubuh mereka (baca: kontraksi sebanyak mungkin otot tubuh), jika dikehendaki/diperlukan. Semakin banyak yang bisa diaktifkan, maka semakin kuat sang anak. Setelah latihan 10 minggu, unit motor pada bagian flexor siku dan extensor lutut sang anak bisa meningkat 9% dan 12%. Jadi benefit fitness untuk anak lebih kepada kekuatan otot, bukan ukuran otot.
Selain itu, orang tua takut memasukkan anaknya ke gym karena dampak publikasi oleh National Electronic Injury Surveillance System of the US Consumer Product Safety Commision. Salah satunya disebutkan dari 1991-1996, diperkirakan terjadi 20.940 s/d 26.120 kasus cedera angkat beban oleh anak (umur 0-21) yang butuh penanganan segera tiap tahunnya. Sayangnya tidak dijelaskan anak yang mana saja yang ikut program pengawasan yang benar dan yang tidak.
Mitos yang bilang ikut fitness akan menganggu pertumbuhan/tinggi badan anak adalah pemahaman keliru. Mitos ini muncul akibat hasil sebuah penelitian jaman dulu (Kato & Ishiko, 1964) yang mengkaitkan terhambatnya pertumbuhan buruh anak di Japan yang biasa memikul beban berat di pundaknya selama beberapa jam per hari, dengan latihan beban. Ada beberapa parameter penting yang dilupakan penelitian tersebut seperti seperti miskinnya nutrisi, kurang tidur, dan kondisi kesehatan anak keseluruhan. Kesemuanya bisa mempengaruhi pertumbuhan (Faigenbaum, 2001).
Strength training for kids lebih aman ketimbang gymnastik. Orang tua jaman sekarang senang sekali memasukkan anaknya dalam kelas gimnastik. Lagi trend, lagi populer, katanya. Keahlian menahan beban pada gimnastik dan latihan beban, sama sama dibutuhkan anak. Cuma dampaknya beda. Gymnastik mengandung banyak unsur peregangan dan dilakukan terus menerus, akibatnya pertumbuhan fisik anak bisa terganggu sampai ke titik dimana fisik anak tak lagi mampu untuk stretching lebih jauh lagi, pertumbuhan tinggi badan anak terhenti. Tak heran jika para gymnastik rata-rata punya fisik pendek.
Sadar akan kesalahannya, akhirnya AAP merevisi pernyataannya (2001) yang kini berbunyi “Penelitian menunjukkan strength training, asalkan diprogram dengan benar (frekwensi, jenis angkatan, intensitas, durasi latihan), maka akan bisa meningkatkan kekuatan anak dan remaja.”
Kini para ilmuwan fitness sudah sadar. Sang anak tidak perlu menambah beban progesif layaknya orang dewasa di gym, karena anak tidak bakalan (belum waktunya) bisa membesarkan ototnya (hipertropi), kecuali jika sudah lewat masa puber (Tanner tahap 5 / mendekati dewasa). Hipertropi mustahil terjadi pada anak, karena kadar hormon androgen (termasuk testosterone) mereka masih rendah. Demikian menurut The American Academy of Pediatrics (AAP) dan the American Orthopaedic Society for Sports Medicine (AOSSM). Kalaupun terjadi hipertropi, ukuran otot tetap bukan faktor penentu kekuatan otot anak, tapi lebih ditentukan oleh pembelajaran neuromuscular.
Asalkan diawasi secara ketat oleh pelatih, tidak over-training (kebanyakan), pakai beban ringan s/d sedang, pakai teknik benar, justru fitness for kids akan memperkuat mineral tulang (Morris et al., 1997). Dari sini tumbuh kemampuan anak menahan tekanan (kompresi). Tubuh anak dipaksa tak punya pilihan lain, selain tumbuh dan terus tumbuh. Resistance training tak akan mempengaruhi genotypic maksimal seseorang.
Penderita Osteoporosis (penyakit keropos tulang) saat ini sudah mencapai 20 juta orang di Amerika saja. Penyebabnya bukan cuma karena kekurangan kalsium saja. Ingat, sebagian besar dari mereka doyan ngemil, dan banyak makanan siap saji yang mengandung kalsium didalamnya. Sayangnya apa yang mereka makan juga berkategori sampah (junk-food), sehingga kalsium yang masuk juga banyak terkuras keluar tubuh. Akibat kurang kalsium, maka tubuh otomatis mengambil kalsium dari tulangnya sendiri. Ingat pepatah “Jika anda makan sampah/junk-food, maka tubuh anda juga akan terlihat seperti sampah.” PLUS diperparah dengan gaya hidup mereka yang malas. PLUS pertambahan umur juga menurunkan kepadatan tulang (Katch & McArdle, 1993). Bagaimana cara melawan semua proses degeneratif itu? Latihan beban akan meningkatkan kepadatan kalsium dalam tulang, asalkan asupan kalsium cukup. Membiasakan anak ikut latihan beban, berarti anak dapat bekal sejak dini melawan osteopenia dan osteoporosis kelak.
The American Academy of Pediatrics (AAP), the American College of Sports Medicine (ACSM), AOSSM, dan the National Strength and Conditioning Association (NSCA) – semua organisasi sport bergengsi tersebut mendukung strength training bagi anak/remaja. Banyak pakar fitness, dokter, dan orang tua yang kini yakin akan keuntungan strength training bagi anak mereka. Trend olahraga anak-anak jaman sekarang adalah, mereka selalu mencari cara untuk berprestasi di level kompetisi. Jumlah mereka meningkat pesat. Bayangkan benefit yang mereka dapatkan jika mengkombinasikan olahraga mereka dengan strength training.
Penelitian terbaru menunjukkan, keuntungan strength training lebih besar ketimbang resiko yang musti dipikul jika sampai terjadi hal yang tak diinginkan. Jika bicara soal strength training, maka resiko anak/remaja tidak lebih besar ketimbang mereka yang belum pernah latihan sekalipun (Guy et al., 2001).
Berikut ini adalah keuntungan strength training bagi anak :
• Kekuatan otot meningkat
• Kepadatan mineral tulang meningkat
• Kemampuan fitness kardio meningkat
• Profile lemak darah menjadi sehat
• Komposisi fisik terkoreksi (otot vs lemak) – keuntungan paling utama
• Menurunkan tekanan darah
• Tidak mudah cedera
• Rasa percaya diri meningkat
• Cara pandang terhadap diri dan sekitarnya terkoreksi
• Kebiasaan olahraga seumur hidup
• Memiliki konsep mengejar target/tujuan dalam tiap sendi kehidupannya
• Daya tarik terhadap kesehatannya meningkat
• Kebiasaan makan sehat terbentuk
Jumat, 20 Februari 2009
FITNESS FOR KIDS: WHY NOT?
The Center for Disease Control memperkirakan 15% dari anak-anak umur 6-19 tahun saat ini kelebihan berat badan karena kurang aktif secara fisik. Adakah salah seorang teman kalian yang kebetulan menjadi binaragawan? Jawabannya: tak banyak – atau tak satupun! Diperkirakan 85% remaja tidak bahagia dengan penampilan mereka! Dan besar kemungkinan termasuk didalamnya adalah anda para pembaca majalah ini.
Semua itu berujung pada perasaan tidak aman yang senantiasa membayangi diri anda. Misalnya diintimidasi orang yang berbadan lebih besar dari anda. Hal semacam itu bisa menyebabkan depresi dan kelainan pola makan.
Apapun bentuk fisik para remaja saat ini, fitness bisa menjadi solusi memperbaiki penampilan fisik anda. Tidak perlu harus berbadan gede seperti Ronnie Coleman. Yang penting enak dilihat, keras jika disentuh, dan otot sekujur tubuh terdefinisi jelas garis-garisnya.
Memulai fitness sejak usia dini sangat dianjurkan. Anak dan remaja paling rentan terjerumus hal negatif karena salah pergaulan. Hal yang mustinya tak perlu terjadi jika si anak punya rasa percaya diri besar. Dan itu bisa didapatkan anak/remaja dari hasil dedikasi dan latihannya di fitness. Rasa percaya diri itu akan berpengaruh besar pada karir dan pengembangan bakatnya kelak. Fitness sejak dini bisa membantu mengatasi masalah kenakalan remaja.
Apalagi kian meningkatnya kasus penyakit kronis anak saat ini seperti kegemukan, diabetes, tekanan darah tinggi, maka fitness bagi anak/remaja sudah tak bisa ditawar lagi. Wajib hukumnya !
Semua itu berujung pada perasaan tidak aman yang senantiasa membayangi diri anda. Misalnya diintimidasi orang yang berbadan lebih besar dari anda. Hal semacam itu bisa menyebabkan depresi dan kelainan pola makan.
Apapun bentuk fisik para remaja saat ini, fitness bisa menjadi solusi memperbaiki penampilan fisik anda. Tidak perlu harus berbadan gede seperti Ronnie Coleman. Yang penting enak dilihat, keras jika disentuh, dan otot sekujur tubuh terdefinisi jelas garis-garisnya.
Memulai fitness sejak usia dini sangat dianjurkan. Anak dan remaja paling rentan terjerumus hal negatif karena salah pergaulan. Hal yang mustinya tak perlu terjadi jika si anak punya rasa percaya diri besar. Dan itu bisa didapatkan anak/remaja dari hasil dedikasi dan latihannya di fitness. Rasa percaya diri itu akan berpengaruh besar pada karir dan pengembangan bakatnya kelak. Fitness sejak dini bisa membantu mengatasi masalah kenakalan remaja.
Apalagi kian meningkatnya kasus penyakit kronis anak saat ini seperti kegemukan, diabetes, tekanan darah tinggi, maka fitness bagi anak/remaja sudah tak bisa ditawar lagi. Wajib hukumnya !
Garis Epiphyseal
Lebih dari 10 % fraktur pada anak-anak melibatkan cedera pada lempeng pertumbuhan ( fisis ) karena fisis merupakan suatu bagian tulang yang relatif lemah. Salter Haris merupakan jenis patah tulang yang terjadi hanya pada anak-anak yaitu patah tulang yang melibatkan piringan epiphyseal.
Maka dari itu penanganan patah tulang pada anak membutuhkan pertimbangan bahwa anak masih tumbuh. Disamping itu kemampuan penyembuhan anak lebih cepat dan karena itulah perpendekan serta perubahan bentuk akibat patah tulang lebih dapat ditoleransi oleh anak.2
A. DEFINISI
Piringan pertumbuhan, juga disebut sebagai piringan epiphyseal atau fisis adalah area jaringan pertumbuhan didekat ujung tulang panjang anak-anak atau remaja. Tiap tulang panjang mempunyai sedikitnya dua piringanan pertumbuhan yaitu pada masing-masing ujungnya. Piringan pertumbuhan menentukan panjang dan ukuran tulang dewasa pada masa yang akan datang. Jika pertumbuhan telah lengkap, kadang-kadang selama masa remaja piringan pertumbuhan tertutup dan digantikan oleh tulang padat.
B. PATHOFISIOLOGI
Gambaran histologis dari fisis sangat penting untuk memahami prognosis patah physeal. Lapisan germinal tulang rawan berada diatas epiphisis dan menguraikan nutrisi dari bejana epiphyseal. Sel tulang rawan tumbuh dari epiphysis menuju metaphysis, yang kemudian terjadi degeneratif, fragmentasi dan mengalami hipertrofi. Fragmentasi sel kemudian termineralisasi. Ini merupakan zona pengerasan sementara yang membentuk pembatas metaphyseal, dan bukan tulang rawan.
Neovaskularisasi terjadi dari metaphysic menuju epiphysis. Sel endothelial berubah menjadi osteoablast dan menggunakan puing-puing sel yang mengalami degeneratif untuk membentuk tulang muda primer. Tulang muda ini secara progresif dibentuk kembali menjadi tulang dewasa dan pembentukan ini kemudian menjadi tulang harversian dewasa. Kerusakan baik pada saluran vascular epiphyseal maupun metaphyseal menggangu pertumbuhan tulang, akan tetapi kerusakan lapisan tulang rawan munkin tidak signifikan jika permukaannya tidak terganggu dan saluran vascular ke tulang rawan tidak terganggu secara permanent. Jika kedua dasar vascular saling bersentuhan, fisis tersebut tertutup dan tidak ada lagi pertumbuhan tulang berikutnya yang terjadi.
Daerah piringan epiphyseal merupakan bagian tulang rawan yang mengeras, dan jika terjadi fraktur yang melibatkan piringan epiphyseal, biasanya garis pemisah berjalan melintang melalui lapisan hipertrofik atau lapisan kapur pada lempeng pertumbuhan, dan sering masuk kedalam metafisis pada salah satu tepi dan mencakup bibir segitiga dari tulang. Ini tidak memberikan banyak efek terhadap pertumbuhan longitudinal yang terjadi dalam lapisan germinal fisis dan lapisan fisis yang sedang berkembang biak.1,5
Tetapi kalau fraktur melintasi lapisan sel reproduksi pada lempeng dapat mengakibatkan penulangan premature pada bagian yang mengalami cidera dan menyebabkan gangguan pertumbuhan tulang. Selain itu suplai darah piringan epiphyseal yang masuk dari permukaan epiphyseal dapat kehilangan pasokan darahnya sehingga dapat mengakibatkan piringan tersebut menjadi nekrotis dan tidak tumbuh lagi. Pada beberapa tempat suplai darah pada epiphyseal tidak rusak pada saat terjadi luka karena pada epiphyseal femoral proximal dan epiphyseal radial proximal pembuluh darah mengalir melalui leher tulang dan memotong sekeliling epiphyseal.1,5
C. KLASIFIKASI
Klasifikasi fraktur piringan epiphyseal Salter Haris berdasarkan pada mekanisme fraktur dan juga hubungan garis patahan terhadap sel tumbuh piringan epiphyseal, selain itu, ini berkaitan dengan metode perawatan dan juga prognosis luka yang berhubungan dengan gangguan pertumbuhan.1,2,3,4,5,6
1. Type I
Terdapat pemisahan total epiphysis sepanjang tulang tanpa patah tulang, sel piringan epiphyseal yang tumbuh masih melekat pada epiphysis. Jenis luka ini akibat gaya gunting, lebih umum terjadi pada bayi yang baru lahir ( dari luka kelahiran ) dan pada anak-anak yang masih muda dimana piringan epiphyseal masih relative tebal.
2. Type II
Garis pemisah patah tulang memanjang sepanjang piringan epiphyseal hingga jarak tertentu dan kemudian keluar melalui bagian metaphysis sehingga mengakibatkan fragmentasi metaphyseal berbentuk triangular. Sel tumbuh pada piringan tersebut masih melekat pada epiphysis. Jenis fraktur ini, akibat dari gaya gunting dan tekuk, basanya terjadi pada anak-anak yang lebih besar dimana piringan epiphyseal relatif tipis. Periosteum tersobek pada sisi cembung angulasi tersebut tetapi melekat pada sisi cekung sehingga engsel periosteal utuh dan selalu berada pada sisi potongan mataphyseal.
3. Type III
Patah tulang tersebut adalah intra-articular, mamanjang dari permukaan sambungan hingga bagian dalam piringan epiphyseal dan kemudian sepanjang piringan tersebut hingga sekelilingnya. Jenis fraktur yang tidak umum ini disebabkan oleh gaya gunting intra artikular dan biasanya terbatas pada epiphysis tibia distal.
4. Type IV
Patah tulang yang intra-articular, mamanjang dari permukaan sambungan malalui epiphysis memotong ketebalan piringan epiphyseal dan melalui bagian metaphysic. Contoh yang paling umum dari fraktur tipe IV ini adalah patah tulang condyle lateral tulang lengan bagian atas.
5. Type V
Fraktur yang relatif kurang umum ini diakibatkan oleh gaya tekan yang keras yang terjadi pada epiphysis menuju ke piringan epiphyseal. Tidak ada fraktur yang kelihatan tetapi lempeng pertumbuhan remuk dan ini mungkin mengakibatkan terhentinya pertumbuhan. Seperti juga yang terjadi pada daerah lutut dan pergelangan kaki.
D. GAMBARAN KLINIK
Fraktur ini lebih sering ditemukan pada anak laki-laki daripada anak perempuan dan biasanya ditemukan pada masa bayi atau diantara usia 10-12 tahun. Defomitas biasanya sedikit sekali, tetapi setiap cedera pada anak yang diikuti dengan rasa nyeri dan nyeri tekan di dekat sendi harus dicurigai, dan pemeriksaan dengan sinar X penting dilakukan.5
Sinar X fisis sendiri bersifat radiolusen dan penulangn epipisis mungkin belum lengkap, ini membuat sulit mengatakan apakah ujung tulang telah rusak atau mengalami deformasi. Lebih muda si anak lebih kecil bagian epifisis yang kelihatan sehingga lebih sukar menegakkan diagnosis maka perbandingan dengan sisi yang normal dapat sangat membantu. Tanda-tanda yang memberi petunjuk adalah pelebaran dari celah fisis , ketidaksesuaian sendi atau miringnya poros epiphysis. Kalau terdapat pergeseran yang nyata diagnosinya jelas, tapi fraktur tipe IV sekalipun mula-mula dapat sedikit pergeserannya sehingga garis fraktur sulit dilihat dan kalau terdapat kecurigaan yang sedikitpun mengenai adanya fraktur fisis, pemeriksaan ulang sinar X setelah 4 atau 5 hari perlu dilakukan.3,5
E. PENANGANAN
Fraktur yang tidak bergeser dapat diterapi dengan membebat bagian itu dalam gips atau suatu slab gips yang ketat selama 2-4 minggu (tergantung tempat cedera dan anak umur itu). Tetapi pada fraktur tipe 3 dan tipe 4 yang tak bergeser, pemeriksaan sinar X setelah 4 hari dan sekali lagi sekitar 10 hari kemudian wajib dilakukan agar pergeseran yang terjadi belakangan tidak terlewatkan.
Pada tipe I reduksi tertutup tidak sulit karena perlekatan periosteal utuh disekitar lingkarannya dan kemudian dibebat dengan erat selama 5-6 minggu. Prognosis untuk masa yang akan datang sangat dipengaruhi oleh suplai darah pada epiphysis, dimana biasanya pada tempat selain epiphysis femoral femoral proximal dan epiphysis radial proximal.1,5
Pada tipe II reduksi tertutup relatif mudah didapatkan begitu juga dengan perawatannya karena engsel periosteal utuh dan potongan metaphysis terlindung selama reduksi. Prognosis selama perkembangan yang sempurna dengan suplai darah pada epiphisis adalah baik, yang hampir selalu berada pada tempat dimana fraktur type II terjadi.1,5
Penanganan pada tipe III membutuhkan reduksi anatomis yang sempurna. Dapat dilakukan usaha untuk mencapai hasil ini dengan manipulasi secara pelan-pelan dibawah anestesi umum, kalau ini berhasil tungkai ditahan dengan gips selama 4-8 minggu. Kalau tidak dapat direduksi dengan tepat dengan manipulasi tertutup, reduksi terbuka biasanya dibutuhkan segera untuk mengembalikan permukaan sambungan normal yang sempurna. Tungkai kemudian dibebat selama 4-6 minggu, tetapi diperlukan waktu selama itu lagi sebelum anak siap untuk melanjutkan aktivitas tanpa batasan. Prognosis untuk pertumbuhan adalah suplai darah yang baik yang diberikan pada bagian epiphysis yang terpisah.1,5
Penanganan tipe IV yaitu reduksi terbuka dan fiksasi internal dengan kawat Kirschner diperlukan dimana tidak hanya untuk mengembalikan permukaan sambungan normal tetapi juga untuk mendapatkan pengembalian posisi piringan epiphyseal, kecuali jika permukaan patah piringan epiphyseal dibiarkan tereduksi maka penyembuhan patahan tulang terjadi sepanjang piringan tersebut dan selanjutnya memberikan pertumbuhan longitudinal yang tidak mungkin. Prognosis untuk pertumbuhan pada tipe IV ini jelek kecuali jika reduksi sempurna dicapai dan terjaga.1,5
Karena epiphysis tersebut biasanya tidak tergeser, diagnosis fraktur tipe V sulit untuk dilakukan. Beban ringan harus diabaikan paling tidak tiga minggu dengan harapan untuk menjaga tekanan selanjutnya pada epiphyseal. Prognosis fraktur tipe V kurang diperhatikan karena gangguan pertumbuhan hampir tidak terlihat.1,5
Dari penanganan diatas dapat dikatakan bahwa luka yang melibatkan piringan epiphyseal harus dirawat dengan hati-hati dan secepatnya. Fraktur tipe I dan II hampir dapat selalu dirawat dengan reduksi tertutup. Fraktur tipe III biasanya membutuhkan reduksi terbuka dan tipe IV selalu membutuhkan reduksi terbuka dan fiksasi internal. Periode immobilisasi yang dibutuhkan pada fraktur tipe I, II, dan III hanya setengah dari yang dibutuhkan untuk patah tulang mataphysis pada tulang yang sama pada anak dengan usia yang sama. Selanjutnya perlu diteliti secara klinis dan radiologi dengan cemat dalam interval yang teratur paling tidak satu tahun dan kadang lebih untuk mendeteksi adanya gangguan pertumbuhan. 1,5
F. PROGNOSIS
Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam memperkirakan prognosis fraktur piringan epiphyseal pada anak antara lain:1
1. Tipe fraktur.
Prognosis untuk masing-masing dari kelima tipe klasifikasi fraktur piringan epiphyseal telah dibahas diatas.
2. Usia anak.
Anak dengan usia yang lebih muda pada saat mengalami fraktur akan mempunyai gannguan pertumbuhan yang lebih besar.
3. Suplai darah pada epiphysis
Gangguan suplai darah pada epiphysis berhubungan dengan prognosis jelek.
4. Metode Reduksi
Manipulasi yang sangat besar pada epiphysis yang tergeser dapat merusakan piringan epiphyseal tersebut dan oleh karenanya dapat meningkatkan gangguan pertumbuhan.
5. Luka terbuka atau tertutup
Fraktur piringan epiphyseal terbuka dapat mengakibatkan infeksi yang pada akhirnya akan merusak piringan tersebut dan mengakibatkan berhentinya proses pertumbuhan sebelum waktunya.
DAFTAR PUSTAKA
1. Apley G., Solomon L., 1993, apley’s System of Orthopedies and Fractures, 7th edition: 432 – 438, Butterworth-Heinemann Ltd., Oxford.
2. De Jong W., Sjamsuhidajat R., 1997, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi : 1140, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
3. Moore W., 2003, http//www. eMedicine - Salter-Harris Fractures Article,.htm
4. National Institutes of Health, 2001, http//www. Epiphyseal Plate Injury – Questions and Answers About Growth Plate Injuries. htm
5. Nugroho E., 1995, Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem Apley, ED. 7, hal 281-282, Widya Medika, Indonesia.
6. Terrell WD., 2001, What is a fracture?Fracture Description and Classification, Hughston Sport Medicine foundation, Auburn, Alabama.
Senin, 05 Januari 2009
Operasi Penurunan Berat Badan Tingkatkan Potensi Seks Pria
Gangguan seks yang biasa terjadi pada pria bertubuh sangat gemuk membaik, menyusul operasi penurunan berat badan, demikian hasil satu studi baru.
"Gangguan seks mesti dipertimbangkan sebagai salah satu dari sejumlah komplikasi kegemukan yang dapat diubah," demikian kesimpulan tim studi tersebut, seperti dikutip Xinhuanet.
Dr. Ramsey M. Dallal, dari Albert Einstein Healthcare Network, Philadelphia, dan rekannya mengukur tingkat 97 orang bertubuh sangat gemuk yang mengalami gangguan seks, dan kemudian menganalisis perubahan seks setelah mereka kehilangan berat badan cukup banyak menyusul operasi bypass perut.
Sebelum operasi, pria yang memiliki tubuh sangat gemuk memiliki kemampuan seks yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan kelompok pria rujukan yang disiarkan sebelumnya sebelum operasi, demikian laporan para peneliti.
Setelah mengalami penurunan rata-rata dua pertiga dari kelebihan bobot tubuh mereka, pria itu mengalami peningkatan mencolok dalam fungsi seks mereka, jumlah penurunan berat badan meramalkan angka peningkatan.
"Kami memperkirakan bahwa seorang pria yang memiliki tubuh sangat gemuk memiliki tingkat gangguan seks yang sama dengan pria yang tidak bertubuh gemuk, dengan usia sekitar 20 tahun lebih tua," kata para peneliti tersebut.
"Fungsi seks meningkat secara mencolok setelah operasi bypas lambung ke tingkat yang mencapai atau mendekati tolok-ukur berdasarkan usia."
"Fungsi seks adalah aspek penting bagi kualitas hidup dan sekarang terdokumentasi dengan baik sebagai kondisi yang dapat diubah," demikian penjelasan Dallal.
"Kami tertarik pada upaya memastikan fungsi seks pada perempuan serta memahami mekanisme gangguan seks yang berhubungan dengan kegemukan," tambah Dallal. (*)
"Gangguan seks mesti dipertimbangkan sebagai salah satu dari sejumlah komplikasi kegemukan yang dapat diubah," demikian kesimpulan tim studi tersebut, seperti dikutip Xinhuanet.
Dr. Ramsey M. Dallal, dari Albert Einstein Healthcare Network, Philadelphia, dan rekannya mengukur tingkat 97 orang bertubuh sangat gemuk yang mengalami gangguan seks, dan kemudian menganalisis perubahan seks setelah mereka kehilangan berat badan cukup banyak menyusul operasi bypass perut.
Sebelum operasi, pria yang memiliki tubuh sangat gemuk memiliki kemampuan seks yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan kelompok pria rujukan yang disiarkan sebelumnya sebelum operasi, demikian laporan para peneliti.
Setelah mengalami penurunan rata-rata dua pertiga dari kelebihan bobot tubuh mereka, pria itu mengalami peningkatan mencolok dalam fungsi seks mereka, jumlah penurunan berat badan meramalkan angka peningkatan.
"Kami memperkirakan bahwa seorang pria yang memiliki tubuh sangat gemuk memiliki tingkat gangguan seks yang sama dengan pria yang tidak bertubuh gemuk, dengan usia sekitar 20 tahun lebih tua," kata para peneliti tersebut.
"Fungsi seks meningkat secara mencolok setelah operasi bypas lambung ke tingkat yang mencapai atau mendekati tolok-ukur berdasarkan usia."
"Fungsi seks adalah aspek penting bagi kualitas hidup dan sekarang terdokumentasi dengan baik sebagai kondisi yang dapat diubah," demikian penjelasan Dallal.
"Kami tertarik pada upaya memastikan fungsi seks pada perempuan serta memahami mekanisme gangguan seks yang berhubungan dengan kegemukan," tambah Dallal. (*)
Langganan:
Postingan (Atom)