Jumat, 20 Februari 2009

Fraktur dan Fraktur Radius Ulna

Fraktur

Fraktur adalah gangguan pada kontinuitas tulang dengan atau tanpa letak perubahan letak fragmen tulang (Kumar,1997). Menurut Lane and Cooper (1995), fraktur atau patah tulang adalah kerusakan jaringan atau tulang baik komplet maupun inkomplete yang berakibat tulang yang menderita tersebut kehilangan kontinuitasnya dengan ayau tanpa adanya jarak yang menyebabkan fragmen. Gejala klinis yang terjadi pada fraktur adalah kebengkakan, deformitas, kekakuan gerak yang abnormal, krepitasi, kehilangan fungsi dan rasa sakit (Archibald, 1965).

Penyebab Terjadinya fraktur adalah trauma atau rudipaksa dan penyakit. Fraktur karena trauma ini dikenal sebagai fraktur traumatika. Sedangkan fraktur karena penyakit ini bisa disebabkan oleh penyakit yang berada di dalam tulang (penyakit tulang) baik bersikap lokal maupun umum, dapat juga disebabkan oleh penyakit yang berada diluar tulang. Fraktur karena penyakit ini dikenal sebagai fraktur patologis. Penyakit yang berada di dalam tulang yang bersifat lokal adalah Radang tumor jinak/osteomielisis (TBC tulang) dan Tumor/jinak maupun ganas (osteoma, osteosarcoma). Penyakit yang berada di dalam tulang dan yang bersifat umum adalah osteogenesis imperpecta, penyakit metabolisme/sistemik (Hipovitaminosis A dan D). dan osteoporosis (Formalski, 2000).

Berdasarkan bentuk patahan atau derajat kerusakan fraktur dibedakan menjadi patah tulang komplet (fraktur completa) dan patah tulang incompleta atau patah tulang sebagian. Patah tulang komplet adalah kerusakan tulang patah total dan patah tulang inkompleta atau patah tulang sebagian adalah sebagian kontinuitas tulang terputus yang dapat berupa retak/fissura atau green stic fracture (Kumar, 1997). Berdasarkan ada tidaknya hubungan dengan udara luar, fraktur dibedakan menjadi fraktur tertutup dan fraktur terbuka.fraktur tertutup adalah fraktur yang tanpa luka dan tidak ada hubungan dengan udara luar. Fraktur terbuka adalah fraktur dengan luka terbuka sampai menembus kulit sehingga tulangnya tampak dari luar tubuh dan berhubungan dengan udara luar (Kumar, 1997). Berdasarkan arah patahan dan lokasi, fraktur dibagi menjadi tujuh yaitu : fraktur transversal jika arah patahannya tegak lurus dengan sumbu panjang tulang. Kemudian fraktur oblique adalah fraktur dengan arah patahan miring, fraktur spiral jika arah patahannya bentuk spiral. Fraktur impaktive adalah fraktur dimana salah satu ujung tulang masuk ke fragmen yang lain. Fraktur comminutive adalah fraktur dimana tulang terpecah menjadi beberapa bagian. Fraktur epiphyseal adalah fraktur pada titik pertemuan epiphysis pada batang tulang dan fraktur condyloid adalah fraktur dimana bagian condylus yang patah terlepas dari bagian yang lain (Kumar, 1997).

Terapi fraktur diperlukan konsep ”empat R” yaitu : rekognisi, reduksi/reposisi, terensi/fiksasi, dan rehabilitasi.

  1. Rekognisi atau pengenalan adalah dengan melakukan berbagai diagnosa yang benar sehingga akan membantu dalam penanganan fraktur karena perencanaan terapinya dapat dipersiapkan lebih sempurna.

  2. Reduksi atau reposisi adalah tindakan mengembailikan fragmen-fragmen fraktur semirip mungkin dengan keadaan atau kedudukan semula atau keadaan letak normal.

  3. Retensi atau fiksasi atau imobilisasi adalah tindakan mempertahankan atau menahan fragmen fraktur tersebut selama penyembuhan.

  4. Rehabilitasi adalah tindakan dengan maksud agar bagian yang menderita fraktur tersebut dapat kembali normal.

Menurut kumar (1997), prinsip dasar penanganan fraktur adalah aposisi dan immobilisasi serta perawatan setelah operasi yang baik. Pertimbangan-pertimbangan awal saat menangani kasus fraktur adalah menyelamatkan jiwa penderita yang kemungkinan disebabkan oleh banyaknya cairan tubuh yang keluar dan kejadian shock, kemudian baru menormalkan kembali fungsi jaringan yang mengalami kerusakan.

Kriteria penyembuhan fraktur dibagi menjadi 2 yaitu : 1) klinis, meliputi tidak ada pergerakan antar fragmen, tidak ada rasa sakit, ada konduksi yaitu ada kontinuitas tulang; 2) Radiology, meliputi terbentuknya kalus, trabekula tampak sudah menyeberangi garis patahan (Archibald, 1965).

Fraktur radius ulna

Fraktur radius ulna yang paling sering terjadi adalah fraktur radius ulna pars sepertiga distal, terutama pada anjing ras kecil. Fraktur ini mencakup 14% dari kasus fraktur tulang panjang yang muncul (Harasen, 2003b). Tipe fraktur radius ulna meliputi fraktur radius, fraktur ulna atau keduanya (Brinker, 1965). Penyebab paling umum dari fraktur ini adalah trauma saat jatuh atau tertabrak kendaraan bermotor (Degner, 2004).

Kebanyakan fraktur ekstremitas depan merupakan fraktur displasia dan tidak stabil. Pemeriksaan fisik merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan untuk menentukan level fraktur. Kemungkinan bahwa fraktur tersebut merupakan fraktur terbuka atau tertutup juga harus diperhatikan, karena open fracture sering terjadi pada fraktur pars distalis. Pemeriksaan radiologi mutlak dilakukan untuk menentukan penanganan selanjutnya dan prognosis dari fraktur tersebut (Nunamaker, 1985).

Prinsip penanganan kasus fraktur adalah mereduksi fraktur dan menstabilkan reduksi fraktur menggunakan fiksasi. Tekhnik fiksasi fraktur biasanya diklasifikasikan dalam tiga golongan, yaitu: external coaptation, internal fixation, dan external-internal fixation (Piermattei, 1997).

External coaptation merupakan salah satu bentuk fiksasi yang paling sederhana. Fiksasi ini disukai karena ekonomis dan non invasif. Keterbatasan dari bentuk fiksasi ini adalah keterbatasan aplikasinya pada dan tidak memberi stabilitas yang cukup pada kasus-kasus berat. External coaptation pada prinsipnya membatasi aktivitas dari persendian dan otot pada bagian fraktur. Hal ini dapat menyebabkan rasa nyeri akibat tekanan terus menerus dan seringkali menyebabkan komplikasi pada jaringan disekitar area fraktur. Selain itu, karena kurang stabilnya fiksasi yang diberikan, pembentukan kalus menjadi lambat sehingga kesembuhan fraktur juga menjadi lebih lambat (Harasen, 2003a).

Ada banyak tipe dari external coaptation, seperti Robert Jones bandage, Spica splint, Schroeder-Thomas splint, Velpeu sling, Ehmar sling, Pelvic Limb sling, Carpal flexion bandage, Hobbies, Full leg cast, Half cast, Walking bar, dan Bivaved cast. Material yang digunakan juga bervariasi dari bahan polypropylene hingga polymer. Bahan-bahan tersebut idealnya mudah diaplikasikan, nyaman digunakan, dan dapat mencapai kekuatan maksimum dengan cepat, sedangkan external coaptation yang baik harus bersifat radiolusen, sehingga dapat dimonitor dengan baik tanpa harus membuka perban. Selain itu cast harus bersifat mudah dileps, kuat dan ringan, tahan air, dan ekonomis (Piermattei, 1997; Slatter, 2002).

Fiksasi internal adalah fiksasi fraktur dimana pada tulang yang mengalami fraktur difiksasi menggunakan pin, plat, screw, dan wire. Salah satu bentuk dari internal fixation adalah intramedullary pin atau Steinman pin (Slatter, 2002).

Perbaikan jaringan dan kesembuhan luka

Berdasarkan proses terjadinya, kesembuhan luka dibagi menjadi dua yaitu kesembuhan primer dan kesembuhan sekunder. Kesembuhan primer merupakan kesembuhan jaringan dengan nekrosis pasca operasi yang minimal dan tidak ditemukannya pernanahan. Kesembuhan primer dapat diusahakan dengan meminimalisir trauma bedah, mengupayakan dengan sungguh-sungguh pembedahan yang aseptis dan menyatukan kembali jaringan yang terpisah dengan hati-hati (Mayer, 1959). Kesembuhan sekunder adalah kesembuhan yang terjadi pada luka operasi setelah mengalami infeksi yang mengakibatkan kesembuhan primer tidak terjadi.

Pada proses pembedahan yang baik, setelah dilakukan penutupan luka dengan benar maka ruang kecil diantara jahitan dua jaringan yang disatukan akan tersisi cairan serous. Pada beberapa hari pertama, aktivitas kesembuhan sedikit-demi sedikit mulai tampak dan penyatuan kembali jaringan tergantung pada kekuatan jahitan yang dibuat.dalam waktu sekitar empat hari, fibroblast mulai mulai berproliferasi dengan cepat dan membantu dalam menyatukan luka operasi. Dalam tahap ini ujung-ujung pembuluh darah yang terluka mulai berproliferasi dan membentuk jaringan kapiler yang baru. Penyatuan jaringan akan sempurna setelah 12-14 hari setelah pembedahan (mayer, 1959).

Secara rinci proses penyembuhan fraktur dapat dibagi dalam beberapa tahap sebagai berikut :

  1. Fase hematoma

Pada mulanya terjadi hematoma dan disertai pembengkakan jaringan lunak, kemudian terjadi organisasi (proliferasi jaringan penyambung muda dalam daerah radang) dan hematoma akan mengempis. Tiap fraktur biasanya disertai putusnya pembuluh darah sehingga terdapat penimbunan darah di sekitar fraktur. Pada ujung tulang yang patah terjadi ischemia sampai beberapa milimeter dari garis patahan yang mengakibatkan matinya osteocyt pada daerah fraktur tersebut.

  1. Fase proliferatif

Proliferasi sel-sel periosteal dan endoosteal, yang menonjol adalah proliferasi sel-sel lapisan dalam periosteal dekat daerah fraktur. Hematoma terdesak oleh proliferasi ini dan diabsorbsi oleh tubuh. Bersamaan dengan aktivitas sel-sel sub periosteal maka terjadi aktifitas sel-sel dari kanalis medularis dari lapisan endosteum dan dari bone marrow masing-masing fragmen. Proses dari periosteum dan kanalis medularis dari masing-masing fragmen bertemu dalam satu preses yang sama, proses terus berlangsung kedalam dan keluar dari tulang tersebut sehingga menjembatani permukaan fraktur satu sama lain. Pada saat ini mungkin tampak di beberapa tempat pulau-pulau kartilago, yang mungkin banyak sekali,walaupun adanya kartilago ini tidak mutlak dalam penyembuhan tulang. Pada fase ini sudah terjadi pengendapan kalsium.

  1. Fase pembentukan callus

Pada fase ini terbentuk fibrous callus dan disini tulang menjadi osteoporotik akibat resorbsi kalsium untuk penyembuhan. Sel-sel osteoblas mengeluarkan matriks intra selluler yang terdiri dari kolagen dan polisakarida, yang segera bersatu dengan garam-garam kalsium, membentuk tulang immature atau young callus, karena proses pembauran tersebut, maka pada akhir stadium ter dapat dua macam callus yaitu didalam disebut internal callus dan diluar disebut external callus.

  1. Fase konsolidasi

Pada fase ini callus yang terbentuk mengalami maturisasi lebih lanjut oleh aktivitas osteoblas, callus menjadi tulang yang lebih dewasa (mature) dengan pembentukan lamela-lamela). Pada setadium ini sebenarnya proses penyembuhan sedah lengkap. Pada fase ini terjadi pergantian fibrous callus menjadi primary callus. Pada saat ini sudah mulai diletakkan sehingga sudah tampak jaringan yang radioopaque. Fase ini terjadi susudah empat minggu, namun pada umur-umur lebih mudah lebih cepat. Secara berangsur-angsur primary bone callus diresorbsi dan diganti dengan second bone callus yang sudah mirip dengan jaringan tulang yang normal.

  1. Fase remodeling

Pada fase ini secondary bone callus sudah ditimbuni dengan kalsium yang banyak dan tulang sedah terbentuk dengan baik, serta terjadi pembentukan kembali dari medula tulang. Apabila union sudah lengkap, tulang baru yang terbentuk pada umumnya berlebihan, mengelilingi daerah fraktur di luar maupun didalam kanal, sehingga dapat membentuk kanal medularis. Dengan mengikuti stress/tekanan dan tarik mekanis, misalnya gerakan, kontraksi otot dan sebagainya, maka callus yang sudah mature secara pelan-pelan terhisap kembali dengan kecepatan yang konstan sehingga terbentuk tulang yang sesuai dengan aslinya. (Santoso, 1999).

Proses kesembuhan jaringan pada fraktur tulang menurut Archibald (1974), hampir sama dengan kesembuhan pada jaringan lunak, hanya saja tidak terbentuk serabut kolagen melainkan terbentuk osteosit dan matriks tulang. Fase pertama yaitu terjadi peningkatan kegiatan sel-sel tulang yang akan mengisi celah antara ujung patahan tulang dengan dibentuknya jaringan yang banyak mengandung sel. Fase kedua yaitu terbentuknya matriks tulang yang dibentuk di dalam sumsum tulang dan di sekeliling ujung patahan tulang membentuk selubung penguat yang disebut kalus. Jaringan kalus ini lama-lama akan diabsorbsi lagi yang kemudian akan terjadi kondensasi garam-garam kalsium pada matriks sehingga akan terbentuk sistema haversi dan matriks akan menjadi tulang yang sempurna.

Bentuk kesembuhan tulang dapat bervariasi tergantung pada ketepatan reduksi dan fiksasi. Secara ringkas proses kesembuhan tulang dapat dikategorikan menjadi 3 macam, yaitu kesembuhan normal, kesembuhan kontak dengan fiksasi yang kokoh dan kesembuhan gap dengan fiksasi yang kokoh (Archibald, 1974).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar